Suara Hati
Ketika Alam Murka karena Keserakahan

Ini bukan sekadar musibah, tapi peringatan keras. Keserakahan pengusaha yang menjarah hutan, dan kelalaian penguasa yang menutup mata, akhirnya dibayar mahal oleh rakyat kecil. Alam tidak lupa, ia hanya menunggu waktu untuk berbicara.

Hutan tak bisa berteriak, tapi ia menangis lewat bencana. Pohon-pohon yang dulu menjadi penyangga kehidupan, ditebang tanpa rasa takut akan akibat. Akar yang seharusnya menahan tanah, dicabut demi keuntungan sesaat. Ketika hutan kehilangan pelindungnya, manusia kehilangan keselamatannya.

Bencana ini bukan hanya tentang alam yang berubah, tetapi tentang keserakahan yang dibiarkan tumbuh. Tentang pengusaha yang rakus, dan penguasa yang lalai menjaga amanah. Saat izin diteken tanpa nurani, dan hutan dibiarkan gundul, sesungguhnya kita sedang menggali lubang bagi masa depan kita sendiri.

Kini hutan menangis melalui banjir, longsor, dan nyawa yang melayang. Ribuan jiwa menjadi harga yang harus dibayar atas keputusan yang salah. Rakyat kecil kembali menjadi korban, sementara mereka yang merusak sering kali tetap berdiri aman di balik kekuasaan dan uang.

Alam tidak pernah dendam, tapi ia selalu adil. Apa yang ditanam, itulah yang dituai. Ketika keseimbangan dirusak, maka kehancuran menjadi jawaban. Ini bukan sekadar musibah, ini adalah peringatan keras agar manusia berhenti merasa paling berkuasa.

Jika hutan dijaga, ia akan menjaga kita. Jika alam dihormati, ia akan melindungi kehidupan. Tapi ketika hutan terus disakiti, jangan heran jika suatu hari manusia harus membayar harga yang terlalu mahal.

Semoga tangisan hutan ini menyadarkan kita, sebelum tangisan manusia menjadi lebih panjang dan lebih pedih.



Herman Sukarna

07/01/2026

Copy LINK
Hutan Menangis, Manusia Membayar Harga

Bencana ini bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari pohon-pohon yang ditebang tanpa nurani, dari hutan yang dibiarkan habis demi rupiah. Ketika alam kehilangan penjaganya, ribuan nyawa menjadi taruhannya. Hutan menangis, dan manusia menanggung akibatnya.

Hutan tak bisa berteriak, tapi ia menangis lewat bencana. Pohon-pohon yang dulu menjadi penyangga kehidupan, ditebang tanpa rasa takut akan akibat. Akar yang seharusnya menahan tanah, dicabut demi keuntungan sesaat. Ketika hutan kehilangan pelindungnya, manusia kehilangan keselamatannya.

Bencana ini bukan hanya tentang alam yang berubah, tetapi tentang keserakahan yang dibiarkan tumbuh. Tentang pengusaha yang rakus, dan penguasa yang lalai menjaga amanah. Saat izin diteken tanpa nurani, dan hutan dibiarkan gundul, sesungguhnya kita sedang menggali lubang bagi masa depan kita sendiri.

Kini hutan menangis melalui banjir, longsor, dan nyawa yang melayang. Ribuan jiwa menjadi harga yang harus dibayar atas keputusan yang salah. Rakyat kecil kembali menjadi korban, sementara mereka yang merusak sering kali tetap berdiri aman di balik kekuasaan dan uang.

Alam tidak pernah dendam, tapi ia selalu adil. Apa yang ditanam, itulah yang dituai. Ketika keseimbangan dirusak, maka kehancuran menjadi jawaban. Ini bukan sekadar musibah, ini adalah peringatan keras agar manusia berhenti merasa paling berkuasa.

Jika hutan dijaga, ia akan menjaga kita. Jika alam dihormati, ia akan melindungi kehidupan. Tapi ketika hutan terus disakiti, jangan heran jika suatu hari manusia harus membayar harga yang terlalu mahal.

Semoga tangisan hutan ini menyadarkan kita, sebelum tangisan manusia menjadi lebih panjang dan lebih pedih.



Herman Sukarna

06/01/2026

Copy LINK
Dunia Tak Lagi Ramah, Saatnya Lebih Dekat dengan Allah

Dunia hari ini terasa berbeda. Bukan karena matahari tak lagi bersinar, tetapi karena hati manusia semakin kehilangan arah. Hidup terasa berat, masalah datang silih berganti, dan ketenangan menjadi sesuatu yang mahal. Dunia seakan tak lagi ramah, meski kita telah berusaha menjadikannya tempat bergantung.

Di tengah semua itu, aku mulai sadar: mungkin masalahnya bukan pada dunia, tetapi pada hatiku yang terlalu berharap pada dunia. Karena dunia memang diciptakan untuk menguji, bukan untuk menghibur. Ia tak pernah berjanji memberi kenyamanan abadi.

Ketika sandaran hidup mulai rapuh—harta tak menenangkan, jabatan tak menguatkan, dan manusia tak selalu bisa diandalkan—saat itulah Allah mengajak kita kembali. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan ujian. Agar kita ingat, bahwa satu-satunya tempat pulang yang benar hanyalah kepada-Nya.

Maka di saat dunia tak lagi ramah, inilah waktu terbaik untuk lebih dekat dengan Allah. Memperbaiki shalat yang sering tergesa, memperbanyak doa yang sering tertunda, dan melunakkan hati yang terlalu keras oleh urusan dunia. Karena ketenangan sejati tidak lahir dari keadaan yang sempurna, tetapi dari hati yang dekat dengan Rabb-nya.

Jika dunia membuatmu lelah, jangan menjauh dari Allah—justru mendekatlah. Sebab Allah tak pernah berubah, ketika dunia berubah begitu cepat.

Ya Allah, di saat dunia terasa sempit, lapangkanlah hati kami dengan iman. Jadikan Engkau satu-satunya sandaran, hari ini dan selamanya. 🤲



Herman Sukarna

Copy LINK
Alam Tak Lagi Diam, Kita Masih Lalai?

Alam kini seolah berbicara tanpa kata. Panas terasa lebih menyengat, hujan datang tak menentu, angin dan badai hadir tanpa aba-aba. Bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi peringatan yang terus berulang. Namun di tengah semua itu, sering kali kita masih sibuk dengan dunia, seakan semua ini hanyalah kebetulan semata.

Alam tak lagi diam, tetapi hati kita sering kali masih tertidur. Kita menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah setiap hari, namun lalai mengambil pelajaran. Kita sibuk memperbaiki kenyamanan hidup, tapi lupa memperbaiki hubungan dengan Sang Pemberi Hidup.

Mungkin yang perlu kita renungkan bukan hanya mengapa alam berubah, tetapi mengapa iman kita belum ikut berubah. Ketika bumi menunjukkan ketidakstabilannya, seharusnya hati semakin tunduk, bukan justru semakin keras. Karena sejatinya, setiap gemuruh alam adalah seruan agar manusia kembali mengingat Allah.

Jika alam saja patuh pada perintah-Nya, mengapa kita masih sering menunda taubat? Mengapa shalat masih terasa berat, sementara urusan dunia selalu kita utamakan? Padahal kita tak pernah tahu, berapa lama lagi waktu yang tersisa.

Kini saatnya berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali. Memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat. Karena ketika alam tak lagi diam, sejatinya Allah sedang mengingatkan—bukan untuk menakuti, tetapi untuk menyelamatkan.

Ya Allah, jangan biarkan kami terus lalai saat tanda-tanda-Mu begitu nyata. Lembutkan hati kami sebelum Engkau mengguncang dunia dengan cara yang lebih keras. 🤲



Herman Sukarna

Copy LINK
2026 Bumi Gelisah, Manusia Harus Berbenah

Tahun 2026 terasa seperti pengingat yang Allah kirimkan lewat alam. Cuaca semakin ekstrem, panas dan hujan datang tak menentu, bencana seakan silih berganti. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan. Bahwa dunia ini rapuh, dan manusia sejatinya lemah tanpa pertolongan Allah.

Di tahun 2026 ini, aku bertanya pada diriku sendiri: masihkah aku lalai, saat tanda-tanda kebesaran-Nya begitu nyata? Masihkah aku sibuk mengeluh tentang keadaan, tapi lupa memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta?

Mungkin yang mesti kita lakukan bukan sekadar bersiap secara jasmani, tetapi lebih dalam—bersiap secara ruhani. Memperkuat iman ketika ketidakpastian semakin terasa. Memperbanyak taubat ketika dosa semakin dianggap biasa. Menjaga shalat saat dunia mengajarkan lalai. Dan tetap berbuat baik meski keadaan semakin sulit.

Cuaca yang ekstrem mengajarkan bahwa kita tidak punya kendali apa pun, kecuali doa dan tawakal. Maka di tahun 2026 ini, aku ingin lebih sering menundukkan kepala, bukan hanya saat takut, tetapi juga saat bersyukur. Lebih berhati-hati dalam bersikap, lebih lembut dalam bertutur, dan lebih kuat dalam menjaga iman.

Jika alam saja tunduk pada perintah Allah, maka sudah sepantasnya hati ini kembali tunduk dan patuh. Karena seberat apa pun ujian akhir zaman, orang yang dekat dengan Allah tidak akan kehilangan arah.

Ya Allah, di tahun 2026 ini, jangan jadikan kami hanya sebagai penonton tanda-tanda kebesaran-Mu, tetapi hamba yang mengambil pelajaran dan memperbaiki diri.



Herman Sukarna

Copy LINK
Ketika Dunia Menua, Ke Mana Kita Melangkah?

Dunia ini terasa semakin tua. Tanda-tanda akhir zaman kian nyata dan tak lagi tersembunyi. Fitnah merajalela, kebenaran dan kebatilan kian samar, manusia sibuk mengejar dunia hingga lupa tujuan akhir perjalanannya. Hati terasa lelah, bukan karena kurangnya harta, tetapi karena jauhnya jiwa dari Allah.

Di sisa usia yang Allah titipkan, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa dekat kita dengan-Nya. Karena dunia ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat singgah. Kita hidup bukan untuk menetap, tetapi untuk bersiap.

Maka apa yang mesti kita lakukan?

Perbaiki shalat sebelum semuanya diperbaiki untuk kita. Hidupkan Al-Qur’an sebelum ia hanya menjadi bacaan tanpa makna. Jaga lisan dan hati di tengah derasnya fitnah. Perbanyak taubat sebelum pintu taubat tertutup. Ringankan tangan untuk berbagi, karena kelak yang menolong bukan harta, melainkan amal.

Di akhir zaman, bukan kekuatan yang menyelamatkan, tetapi keimanan. Bukan kepandaian yang menjaga, tetapi ketakwaan. Dan bukan panjangnya usia yang bernilai, melainkan bagaimana usia itu diisi.

Jika dunia semakin menua, maka jangan biarkan iman kita ikut rapuh. Jadilah hamba yang tetap tegak di jalan Allah, meski zaman kian gelap. Karena sebaik-baik bekal di sisa usia ini hanyalah takwa, dan seindah akhir perjalanan adalah husnul khatimah.

Ya Allah, jangan biarkan kami sibuk memperbaiki dunia, namun lalai mempersiapkan akhirat. 🤲



Herman Sukarna

Copy LINK
Ungkapan Hati Menutup Tahun 2025 dan Menyambut 2026

Tahun 2025 perlahan pergi, membawa banyak cerita dalam hidupku. Ada tawa yang Engkau titipkan, ada air mata yang Engkau izinkan jatuh. Di tahun ini aku belajar bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai keinginanku, namun selalu sesuai dengan kehendak-Mu, ya Allah. Aku menyadari, sering kali aku terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lalai menjaga hati dan menguatkan iman.

Di tahun 2025, aku banyak belajar tentang sabar saat diuji, ikhlas saat kehilangan, dan syukur saat diberi nikmat, meski sering kali aku masih mengeluh. Ampuni aku, ya Allah, atas waktu-waktu yang terlewat tanpa dzikir, atas doa-doa yang tertunda, dan atas dosa yang mungkin tak kusadari.

Kini aku menatap tahun 2026 dengan penuh harap, bukan hanya harapan tentang dunia, tetapi harapan untuk menjadi hamba-Mu yang lebih dekat kepada-Mu. Aku ingin memperbaiki shalatku, menata niat dalam setiap langkah, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai penuntun hidupku. Aku berharap Engkau lembutkan hatiku agar mudah menerima nasihat, kuat dalam taat, dan tegar menjauhi maksiat.

Ya Allah, jika di tahun 2026 Engkau masih memberiku umur, jadikan aku pribadi yang lebih berserah, lebih tawakal, dan lebih yakin bahwa setiap takdir-Mu adalah yang terbaik. Bimbing aku agar langkahku selalu berada di jalan-Mu, dan akhirkan setiap usahaku dengan ridha-Mu.

Karena sesungguhnya, harapan terbesarku di tahun 2026 bukanlah banyaknya pencapaian dunia, tetapi semakin dekatnya aku kepada-Mu. 🤲



Herman Sukarna

Copy LINK  Hits: 29
MUHAMMAD QASSIM

Copy LINK






Kajian Abuya Uci Turtusi
KISAH ABAH KARANG


Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Karang, hiduplah seorang kakek yang biasa dipanggil Abah Karang bersama istrinya, Mak Imah....

Abah Karang, Wali di Gunung Sunyi Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu tua. Meski tak dikaruniai anak, kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan sederhana. Setiap pagi, Abah Karang akan turun ke desa untuk membantu penduduk tanpa pernah meminta bayaran.

"Ada apa hari ini, Neng?" tanya Abah Karang pada seorang gadis yang menangis di pinggir jalan."Kerbau saya hilang, Abah," jawab gadis itu sambil terisak. Abah tersenyum tenang. "Jangan khawatir. Pulanglah, nanti kerbaumu akan kembali sendiri."

Benar saja, keesokan harinya kerbau itu ditemukan berdiri di depan rumah gadis tersebut. Kejadian-kejadian seperti ini sering terjadi, hingga penduduk desa mulai percaya bahwa Abah Karang bukan orang biasa.

Namun, Abah dan Mak Imah selalu menampik anggapan itu. "Kami ini cuma orang tua biasa, tak ada apa-apanya," kata Abah setiap kali dipuji.

Gunung Karang sendiri dikenal sebagai tempat yang angker, penuh mitos dan cerita mistis. Tapi anehnya, Abah Karang justru sering naik ke puncaknya seorang diri. "Di sana tenang, bisa bicara dengan alam," begitu ia beralasan jika ditanya. Padahal, tak ada yang tahu bahwa di puncak gunung itulah Abah bertemu dengan malaikat dan para wali lainnya.

Rahasia Abah Karang

Suatu hari, Mak Imah jatuh sakit. Tubuhnya lemah dan wajahnya pucat. Abah Karang merawat istrinya dengan penuh kasih sayang, tetapi ia tahu bahwa usia Mak Imah sudah tak lama lagi. "Abah, kalau saya sudah tidak ada, siapa yang akan menemanimu di sini?" tanya Mak Imah dengan suara lemah.

Abah tersenyum, menggenggam tangan istrinya. "Allah selalu ada, Mak. Kau tenang saja. Aku akan terus mendoakanmu. "Malam itu, Abah Karang berdoa di puncak gunung hingga fajar. Beberapa hari kemudian, Mak Imah mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Abah menguburkannya di bawah pohon besar dekat rumah mereka.

Setelah kepergian Mak Imah, Abah Karang semakin sering menyendiri di gunung. Penduduk desa jarang melihatnya, tetapi keajaiban-keajaiban kecil tetap terjadi. Hujan datang saat sawah kering, kambing yang hilang ditemukan, dan penyakit sembuh seolah tanpa obat.

Pengungkapan Jati Diri

Hingga suatu hari, seorang pemuda dari kota datang ke desa. Pemuda itu bernama Farhan, seorang pencari ilmu yang tengah mencari keberkahan. Ia mendengar cerita tentang Abah Karang dan ingin berguru.

"Abah, saya ingin belajar dari Abah," kata Farhan dengan penuh semangat. Abah Karang hanya tertawa kecil. "Belajar apa dariku? Aku ini hanya orang tua biasa."

Namun, Farhan tidak menyerah. Ia mengikuti Abah ke mana pun, hingga suatu malam ia melihat Abah berdiri di puncak Gunung Karang, berdoa dengan begitu khusyuk. Saat itu juga, Farhan menyaksikan cahaya terang turun dari langit menyelimuti tubuh Abah.

Dengan terkejut, Farhan mendekat dan bersujud. "Abah... Abah adalah wali Allah!"Abah Karang menoleh, wajahnya teduh. "Jangan kau sebarkan tentang diriku. Jadilah orang yang senantiasa berbuat baik, tak perlu mencari nama atau pujian."

Farhan mengangguk, lalu menjadi salah satu murid setia Abah Karang. Dari Farhan-lah akhirnya dunia tahu, bahwa di puncak Gunung Karang pernah hidup seorang wali tersembunyi yang selalu mendoakan kebaikan untuk umat manusia.

Akhir Perjalanan

Suatu pagi, penduduk desa dikejutkan oleh kabar bahwa Abah Karang telah tiada. Tubuhnya ditemukan di puncak gunung dalam posisi sujud, dengan senyum di wajahnya. Anehnya, tak ada seorang pun yang bisa membawa tubuhnya turun. Mereka hanya menemukan secarik kain bertuliskan:

"Jangan tangisi aku, doakanlah umat manusia. Sebab hidup ini hanyalah perjalanan menuju-Nya."

Sejak itu, Gunung Karang menjadi tempat ziarah. Banyak yang datang untuk mengenang kebijaksanaan dan doa-doa Abah Karang, wali yang hidup dalam kesederhanaan.





Kehilangan Abah Karang meninggalkan kekosongan yang dalam bagi penduduk desa. Mereka merasa seperti kehilangan pelindung dan penuntun. ... Namun, dalam kesunyian itu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi di Gunung Karang.

Orang-orang yang mendaki puncak gunung sering melaporkan pengalaman aneh. Ada yang mendengar suara zikir lembut yang seolah datang dari angin, ada pula yang melihat cahaya terang di tempat di mana tubuh Abah ditemukan. Bahkan, beberapa petani yang tertidur di ladang bermimpi bertemu Abah Karang yang memberikan nasihat tentang kehidupan.

Kemunculan Murid Abah Karang

"Apa yang Abah ajarkan kepadamu, Kang Farhan?" tanya seorang pemuda desa. "Abah selalu berkata, jadilah pribadi yang diam-diam mendoakan dunia, seperti pohon yang memberikan keteduhan tanpa meminta balasan," jawab Farhan.

Farhan juga sering mengajak penduduk untuk bersama-sama mendaki Gunung Karang. Di sana, mereka berdoa, bermuhasabah, dan belajar tentang makna kehidupan. Lambat laun, desa itu dikenal sebagai tempat ziarah rohani.

Mukjizat Gunung Karang

Gunung Karang menjadi semakin istimewa. Tanahnya selalu subur, tak peduli musim apa pun. Mata air yang sebelumnya hanya setitik kecil, kini melimpah menjadi sungai kecil yang mengairi sawah-sawah di desa. Penduduk yakin bahwa keberkahan ini adalah hasil dari doa-doa Abah Karang yang terus memancarkan kebaikan meski beliau telah tiada.

Bahkan, ada kisah seorang pendaki yang jatuh sakit parah di tengah perjalanan ke puncak. Dalam ketakutannya, ia bermimpi bertemu Abah Karang. "Bangkitlah, ini belum waktumu. Sebarkan kebaikan di dunia," kata Abah dalam mimpinya. Ketika ia terbangun, tubuhnya kembali sehat tanpa ada tanda-tanda sakit.

Misteri dan Hikmah

Namun, meski keberkahan dirasakan, ada satu misteri yang tak pernah terjawab: makam Abah Karang. Penduduk tak pernah bisa menemukannya. Pohon besar tempat Mak Imah dimakamkan tumbuh menjadi rindang, seolah menjaga rahasia tentang Abah.

Suatu malam, Farhan bermimpi bertemu gurunya untuk terakhir kalinya. Dalam mimpi itu, Abah Karang tersenyum hangat.

"Farhan, keberadaanku bukan untuk diagung-agungkan. Tugasku sudah selesai. Kini giliran kalian untuk melanjutkan perjuangan. Ingatlah, keberkahan tidak ada pada diriku, tapi pada Allah yang Maha Segalanya. Jaga Gunung Karang, jaga umat, dan teruslah berbuat baik," pesan Abah.

Farhan terbangun dengan hati yang tenang. Sejak itu, ia menanamkan kepada penduduk desa bahwa Abah Karang tidak pernah benar-benar pergi. Doa-doa dan amal baik Abah terus hidup di hati mereka.

Warisan Abah Karang

Setiap tahun, pada hari yang diyakini sebagai tanggal kepergian Abah, penduduk desa berkumpul di Gunung Karang. Mereka tidak meratapi kepergiannya, tetapi merenungi ajarannya. Mereka belajar menjadi pribadi yang lebih baik, menolong sesama, dan menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

Gunung Karang menjadi simbol keberkahan, kesederhanaan, dan doa yang tulus. Meski Abah Karang telah tiada, warisan hikmah dan cintanya kepada umat manusia terus hidup, menyinari desa kecil itu hingga ke generasi-generasi berikutnya.

RUKUN ISLAM

Kewajiban Muslim Berzakat

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu. Kewajiban ini bukan sekadar aturan, tetapi juga wujud kepedulian sosial dan ketaatan kepada Allah. ...

Apa Itu Zakat?
Zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim kepada orang-orang yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin, dan lainnya. Zakat terdiri dari dua jenis:
1. Zakat Fitrah, yang dibayarkan menjelang Idulfitri.
2. Zakat Mal, yang berasal dari harta kekayaan seperti emas, hasil pertanian, atau pendapatan.

Kenapa Zakat Itu Penting?
1. Membersihkan Harta
Zakat membantu membersihkan harta kita dari sifat kikir dan keserakahan. Dengan berbagi, hati menjadi lebih lapang.
2. Membantu yang Membutuhkan
Zakat menjadi sarana untuk membantu mereka yang kurang mampu, sehingga kesenjangan sosial dapat diminimalkan.
3. Mendekatkan Diri pada Allah
Dengan menunaikan zakat, kita menunjukkan ketaatan kepada Allah dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan.

Siapa yang Wajib Berzakat?
Muslim yang memiliki harta mencapai nisab (batas minimum harta) dan telah berlalu satu tahun (haul) wajib membayar zakat. Nisab ini berbeda tergantung jenis hartanya, misalnya emas atau pendapatan.

Penutup
Berzakat adalah bentuk ibadah yang tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pemberinya. Sebagai Muslim, mari kita tunaikan kewajiban ini dengan ikhlas dan penuh kesadaran, karena zakat adalah bukti nyata cinta dan kasih sayang kepada sesama.

ISLAM_007

ISLAM_008

ISLAM_006

ISLAM_009

ISLAM_010


Muslim Wajib Sholat

Sholat lima waktu adalah salah satu kewajiban utama bagi setiap Muslim. Allah telah memerintahkan sholat dalam Al-Qur'an sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.... Sholat bukan hanya rutinitas, tetapi juga cara menjaga hubungan langsung dengan Sang Pencipta.

Sholat terdiri dari Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Setiap waktu sholat memiliki keutamaan tersendiri dan ditetapkan pada waktu yang berbeda untuk mengingatkan kita akan kebesaran Allah sepanjang hari.

Melaksanakan sholat lima waktu tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga memberikan manfaat luar biasa. Sholat membantu kita untuk merenung, memperbaiki diri, dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Selain itu, sholat juga memberikan ketenangan jiwa dan mengajarkan disiplin.

Sebagai seorang Muslim, meninggalkan sholat adalah dosa besar. Oleh karena itu, mari kita jaga kewajiban ini dengan penuh kesungguhan. Ingatlah, sholat adalah tiang agama. Jika sholat kita terjaga, maka kehidupan kita pun akan menjadi lebih terarah dan penuh berkah.

Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk istiqamah dalam melaksanakan sholat lima waktu. Aamiin.

ISLAM_001

ISLAM_002

ISLAM_003

ISLAM_004

ISLAM_005



Tokoh Penyebar Islam Indonesia




Para Wali Allah




Adab Muslim
CATATAN
PROYEK

Banyak orang belajar. Banyak pula yang mengajar. Tapi pertanyaannya berapa banyak yang benar-benar menjaga hati dan niatnya saat menyampaikan ilmu? ...

Imam Syafii pernah berkata:

"Ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang kotor."

Ilmu adalah anugerah Allah. Ia ibarat cahaya yang menerangi jalan dalam kegelapan. Tapi bila cahaya itu dibawa oleh hati yang penuh iri, sombong, dan hanya ingin dipuji, maka ilmu tersebut bukan lagi petunjuk... melainkan bisa menjadi fitnah dan kesesatan.

Seorang guru yang mengajar hanya demi ketenaran, bukan karena Allah.
Seorang ustaz yang berbicara di mimbar dengan penuh amarah dan ego.
Seorang pembicara yang lebih sibuk membanggakan gelarnya daripada memberi manfaat.

Semua itu adalah gambaran hati yang belum dibersihkan.

Maka sebelum mengajar, bersihkan hati. Luruskan niat. Ajarkan ilmu karena Allah, bukan karena dunia. Karena ilmu yang diajarkan dengan hati yang bersih akan masuk ke hati pendengar dan menjadi cahaya dalam hidup mereka.

ISLAM_001

ISLAM_002

ISLAM_003

ISLAM_004

ISLAM_005